Category Archives: Uncategorized

4 Tips untuk Membuat Company Tagline yang Powerful dan Fungsional

Tagline please

Salah satu fungsi utama sebuah slogan/tagline adalah untuk mengkomunikasikan nilai jual atau nilai tambah merk/brand yang disertainya. Bila slogan itu menyertai nama sebuah produk, maka slogan ini akan mengkomunikasikan manfaat atau nilai tambah yang dimilikinya untuk Anda. Dan bila slogan itu menyertai nama perusahaan Anda, maka harusnya ia bisa mengkomunikasikan visi dan misi perusahaan Anda.

Apple logo Think Different vectorized

Ambil contoh saja Apple. Untuk tagline, Apple menggunakan frase singkat namun tegas “think different“. Bila Anda sering mengikuti perkembangan Apple, Anda harusnya tahu apa makna dibalik slogan itu. Slogan ini dipakai oleh Steve Jobs untuk Apple karena ia menginginkan Apple menjadi perusahaan yang benar-benar berbeda dari perusahaan kompetitornya. Dan saya rasa, Steve tampaknya berhasil membuktikan tagline ini. Mulai dari iPod, iTune, iMac, iPhone, iPad dan Macbook Air, semua menjadi bukti nyata bahwa Apple memang adalah perusahaan yang berkarakter “think different”.

Perusahaan atau bisnis yang Anda geluti mungkin saja tidak seperti Apple. Tapi meskipun begitu, tidak ada alasan bagi Anda untuk keluar rumah tanpa sebuah tagline. Mudah kok bikinnya? Coba simak beberapa tips berikut:

1. UN 1 K alias Unique

Tagline yang bagus haruslah unik. Kalau tidak unik, tagline bagaikan “barang bajakan”. Hambar. Dan “barang bajakan” adalah sesuatu yang tidak cukup bagus untuk mengkomunikasikan jati diri perusahaan Anda. Terkecuali kalau perusahaan Anda memang bergerak di bidang bajak-membajak. Hihihihi … Oke, kembali ke topik kita.

Begitu pula dalam dunia bisnis. Tagline yang unik biasanya mampu memperkuat pencitraan sekaligus positioning perusahaan sekaligus produk-produk perusahaan di mata konsumen setia Anda. Ambil contoh saja Nike dengan tagline sederhananya “Just Do It“. Sampai saat ini, umumnya orang di luar sana sudah tahu empu dari tiga kata ini. It belongs to Nike! Lucu ya, padahal tiga kata ini sebenarnya milik publik. Dalam artian, ini adalah kata-kata yang lumrah kita ucapkan manakala kita hendak memotivasi seseorang melakukan sesuatu. Tapi Nike berhasil mengemasnya dengan begitu baiknya sampai-sampai kita lupa bahwa sebenarnya kata itu sejatinya kata-kata biasa, bukan hak prerogatif sebuah perusahaan di Amerika sana.

2. Singkat

Memang benar bahwa tujuan utama sebuah tagline adalah sebagai penjelas sekaligus alat untuk mengkomunikasikan nilai-nilai atau manfaat produk Anda. Tapi Anda juga harus sadar bahwa tagline yang terlalu panjang tampaknya juga kurang bijaksana. Ambil contoh begini, apakah Anda tetap menyukai Nike kalau mereka merubah tagline mereka dari “Just Do It” menjadi “produsen perlengkapan olahraga bermutu dan berkualitas di seluruh dunia”. Walaupun saya yakin Nike bisa klop dengan tagline yang disebut terakhir tadi, itu tetaplah bukan jaminan bahwa saya akan ikut-ikutan untuk menyukainya sebagai sebuah tagline. Sebagai konsumen, tagline kedua tadi benar-benar membuat saya menjadi tidak semangat …. sehingga membuat saya mungkin akan pindah ke produk lainnya. Dan ini bahaya untuk kelanjutan hidup perusahaan Anda.

Dan jangan lupakan satu hal lagi. Tagline singkat tentunya akan membuatnya lebih mudah diingat ketimbang tagline dengan 20 atau 40 kata.

3. Timeless dan jangan diubah-ubah

Ini agak lucu mungkin, tapi ini benar. Tagline yang bagus harusnya tidak perlu diubah-ubah. Bila diubah-ubah, itu berarti tagline yang sebaliknya. Supaya ini tidak terjadi, sebelum Anda memutuskan penggunaan sebuah tagline, sebaiknya Anda pastikan bahwa tagline ini bukanlah sesuatu yang bisa dimakan oleh zaman. Dan untuk tujuan ini, Anda harus benar-benar memahami tujuan besar di balik berdirinya perusahaan atau berjalannya bisnis Anda. Mari kita melongok ke sebuah perusahaan mobil asal Jerman, BMW. Sejak zaman dulu kala, slogan BMW adalah “Ultimate Driving Machine”. Kalau di bahasa indonesia-kan, slogan itu artinya sama dengan “Kendaraan Terbaik”.

logo-rolex

Soal timeless, Rolex jagonya.

Anda mungkin bertanya-tanya, kenapa di slogan BMW tidak ada kata-kata “cars”. Karena BMW memang tidak hanya tentang mobil! Selain mobil-mobil yang mewah, canggih dan hebat, perusahaan dari negeri bavaria ini juga membuat kendaraan lain seperti motor dan sepeda. Tapi apapun yang mereka buat, hampir pasti itu adalah yang terbaik yang bisa mereka rilis di eranya. Ini adalah salah satu trik untuk membuat slogan yang timeless; fokus ke visi dan misi, bukan produk.

Alasan lain yang membuat Anda sebaiknya tidak usah mengubah-ubah tagline adalah karena ini bisa membingungkan konsumen Anda sendiri. Dan ketika konsumen bingung, mereka mungkin akan belajar melupakan perusahaan Anda. Dan sekali lagi, percayalah, ini buruk buat perusahaan dan bisnis Anda.

4. Don’t read this!

Bila Anda merasa tiga tips di atas terlalu usang untuk kreativitas yang ada di pikiran Anda. Saya sarankan Anda untuk segera menutup tab ini dan lebih memfokuskan diri ke ide Anda saja. Walau bagaimanapun, tulisan ini adalah sebuah opini sekaligus informasi. Jadi bila Anda suka, Anda boleh pakai, tapi bila tidak, boleh ditinggalkan. 

Semoga bermanfaat. Insyaallah. Amin.

Artikel wwww.PengusahaMuslim.com

Iklan

Bagaimana Nabi Muhammad saw Melakukan Bisnis

 

Krisis Ekonomi Dunia belum berakhir, bahkan sektor rill didalam negeri sangat memperihatinkan, walau kacamata optimis harus kita lakukan, Allah SWT berfirman ;
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” QS 13:11

Kondisi ekonomi yang serba carut marut ini memberikan harapan jika kita menggunakan metode Rasulloh dalam menjalankan bisnisnya. Untuk itu simak berikut sesuai tentang bagaimanan Rasulloh dalam melaksanakan usahanya.

Sebelum mencapai jenjang KEROSULLANNYA, telah dikenal sebagai pengusaha muda yang disegani. Untuk sampai pada tataran itu, bukan jalan mudah. Seperti yang kebanyakan dikeluhkan para pengusaha, Nabi Muhammad SAW pun tidak memiliki cukup modal. Jangankan modal, dirinya pun hanya hidup sederhana mendompleng di rumah pamannya, Abu Thalib ra.

Tapi berdagang adalah seni. Modal yang sebenarnya adalah kejujuran dan keadilan dalam transaksi. Prinsip-prinsip inilah yang dijalankan Muhammad SAW

Kunci sukses berdagang Nabi terletak pada sikap jujur dan adil dalam mengadakan hubungan dagang dengan para pelanggan. Itulah yang selalu dia tunjukkan ketika menjadi agen saudagar kaya Siti Khadijah ra — yang kemudian menjadi isti tercinta — untuk melakukan perdagangan ke Syiria, Jerussalem, Yaman dan tempat-tempat lain. Dalam perjalanan perdagangan itu, Nabi mendapatkan perolehan keuntungan di luar dugaan. Nabi menandaskan kejujuran dan agar menjaga hubungan yang baik dan ramah kepada para pelanggan maupun mitra dagang.

Prinsip Nabi, pedagang yang tak jujur, meskipun sesaat mendapatkan keuntungan banyak, tapi pelan tapi pasti akan gagal dalam menggeluti profesinya. Karena itu, dia selalu menasehati sahabat-sahabatnya untuk melakukan hal serupa. Apalagi saat Nabi memimpin ummat di Madinah. Praktek-praktek perdagangan yang mengandung unsur penipuan, riba, judi, ketidakpastian dan meragukan, eksploitasi, pengambilan untung yang berlebihan dan pasar gelap belia larang. Nabi juga memelopori standardisasi timbangan dan ukuran.

Nabi sangat konsen dengan kejujuran. Sampai-sampai, orang yang jujur dalam berdagang, digaransinya masuk dalam golongan para nabi. Abu Sa’id meriwayatkan bahwa Rasulullah berkata, “Saudagar yang jujur dan dapat dipercaya akan dimasukkan dalam golongan para nabi, orang-orang jujur dan para syuhada.”
Sikap baik dalam berdagang
Dalam urusan dagang, nabi selalu bersikap sopan dan baik hati. Jabir meriwayatkan bahwa Rasulullah berkata, “Rahmat Allah atas orang-orang yang berbaik hati ketika ia menjual dan membeli, dan ketika dia membuat keputusan.” (HR Bukhari).

Nabi juga menghindari sikap belebihan dalam berdagang, seperti banyak bersumpah. Tentang hal ini, nasehat Rasulullah, “Hindarilah banyak bersumpah ketika melakukan transaksi dagang, sebab itu dapat menghasilkan penjualan yang cepat, lalu menghapuskan berkah.”

Nabi sangat membenci orang-orang yang dalam dagangnya menggunakan sumpah palsu. Beliau mengatakan, pada hari kiamat nanti, Allah tidak akan berbicara, melihatpun tidak kepada orang yang semasa hidup berdagang dengan menggunakan sumpah palsu.

Hak-hak kelompok dalam transaksi

Dalam proses pertukaran barang dengan persetujuan antara kedua belah pihak, seringkali ada konflik. Untuk menghindari ini, Nabi telah meletakkan dasar, bagaimana transaksi seharusnya terjadi. Ibnu ‘Umar meriwaytakan dari Rasulullah, “Kedua kelompok di dalam transaksi perdagangan memiliki hak untuk membatalkannya hanya sejauh mereka belum berpisah, keculai transasksi itu menyulitkan kelompok itu untuk membatalkannya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat lain disebutkan, “Kedua belah pihak dalam transaksi perdagangan berhak membatalkan, selama mereka tidak berpisah. Jika mereka berkata benar, menjelaskan sesuatunya dengan jernih, maka transaksi mereka akan mendapatkan berkah. Tapi jika menyembunyikan sesuatu serta berdusta, maka berkah yang ada dalam transaksi mereka akan terhapus.” (Bukhari dan Muslim).

Bila berpegang pada sekelumit teladan Nabi itu, mestinya umat Islam sudah menjadi bagian terdepan dalam penguasaan ekonomi dunia. Tapi sayangnya, banyak ajaran Nabi dalam berdagang yang dilupakan. Kalau ingin perdagangan umat semaju seperti Singapura, mestinya prinsip-prinsip dagang Rasul tidak dijadikan kenangan, tapi pegangan.

Kiat-kiat praktis berdagang Nabi

PERTAMA : penjual tidak boleh berbohong dan menipu barang yang akan dijual kepada pembeli. Nabi bersabda, “Apabila dilakukan penjualan, katakanlah: tidak ada penipuan.”

KEDUA kepada para pelanggan yang tak mampu membayar kontan hendaknya diberikan waktu untuk melunasinya. Bila betul-betul dia tidak mampu membayar setelah masa tenggat pengunduran itu, Nabi akan mengikhlaskannya.

KETIGA penjual harus menjauhi sumpah yang berlebih-lebihan, apalagi sumpah palsu untuk mengelabui konsumen.

KEEMPAT hanya dengan kesepakatan bersama, atau dengan suatu usulan dan penerimaan antara kedua belah pihak, suatu bentuk transaksi barang akan sempurna.

KELIMA, penjual harus benar dalam timbangan dan takaran.

KEENAM, orang yang benar-benar membayar di muka untuk pembelian suatu barang, tidak boleh menjualnya sebelum barang tersebut benar-benar menjadi miliknya.
KETUJUH larangan melakukan transaksi monopoli dalam perdagangan. “Barang siapa yang melakukan monopoli, maka dia adalah pendosa.”

KEDELAPAN, tidak ada harga komoditi yang boleh dibatasi. Jika harga dibatasi, lalu tidak ada perusahaan dagang dan niaga, maka perdagangan dunia akan terhenti.
QS: An-Nisa : 29 “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu”

Bisnis Islami hakekatnya adalah selalu memegang asas keadilan dan keseimbangan. Selain itu juga telah dicontohkan aplikasi nilai-nilai Islam dalam mengelola bisnis oleh Nabi Muhammad SAW agar berhasil baik di dunia ataupun di akhirat. Nilai-nilai bisnis Islam telah menjadi tren baru dalam mengendalikan tujuan dan harapan ekonomi dalam jangka panjang, yang selalu mengedepankan kejujuran, kepercayaan, keadilan (profesional) dan komunikatif akan membawa spirit moral dalam bisnis sehingga melahirkan suatu bisnis ataupun usaha yang transparan.

Rasulullah SAW telah menentukan indikator jual beli yang mabrur dalam sebuah hadits sebagai berikut: ” Jika penjual dan pembeli itu jujur dan transparan, maka akan diberkahi dalam transaksinya” (HR. Bukhori no.2079 dan Muslim no.1532)

QS: An-Nisa : 29 “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu”

Syarat sahnya akad jual beli
1. Ijab dan qobul
2. Suka sama suka
3. Dilakukan oleh orang yang dibenarkan untuk melakukannya
4. Barang yang diperjual belikan halal beserta kegunaannya
5. Yang menjalankannya adalah pemilik atau wakilnya
6. Barangnya dapat diserah terimakan
7. Barangnya telah diketahui oleh kedua belah pihak
8. Harga berang ditentukan dengan jelas ketika akad

Bisnis atau jual beli terdiri dari beberapa jenis, Menurut syar’i pantangan moral bisnis (moral hazard) yang harus dihindari adalah sebagai berikut:

1. Maysir yaitu segala bentuk spekulasi judi (gambling) yang mematikan sektor riil dan tidak produktif.
2. Asusila yaitu praktik usaha yang melanggar kesusilaan dan norma social.
3. Goror yaitu segala transaksi yang tidak transparan dan tidak jelas sehingga berpotensi merugikan salah satu pihak.
4. Haram yaitu objek transaksi dan proyek usaha yang diharamkan syariah.
5. Riba yaitu segala bentuk distorsi mata uang menjadi komoditas dengan mengenakan tambahan (bunga) pada transaksi kredit atau pinjaman dan pertukaran/barter lebih antar barang ribawi sejenis. Pelarangan riba ini mendorong usaha yang berbasis kemitraan dan kenormalan bisnis, disamping menghindari praktik pemerasan, eksploitasi dan pendzaliman oleh pihak yang memiliki posisi tawar tinggi terhadap pihak yang berposisi tawar rendah.
6. Ihtikar yaitu penimbunan dan monopoli barang dan jasa untuk tujuan permainan harga.
7. Berbahaya yaitu segala bentuk transaksi dan usaha yang membahayakan individu maupun masyarakat serta bertentangan dengan maslahat dalam maqashid syari’ah.

Sisi kehidupan Nabi Muhammad SAW yang kurang mendapat sorotan adalah karirnya sebagai pengusaha . Dalam literatur dan kisah sekitar masa mudanya, Nabi banyak dilukiskan sebagai Al-Amin dan As-Shiddiq. Lebih dari 20 tahun lamanya Muhammad SAW, berkiprah di bidang wirausaha, sehingga beliau dikenal diYaman, Syria, Busrah, Iraq, Yordania dan kota-kota perdagangan di jazirah Arab. Nabi Muhammad telah meletakkan dasar-dasar moral, manajemen dan etos kerja yang mendahului zamannya. Prinsip-prinsip etika bisnis yang diwariskan telah mendapatkan pembenaran akademis dipenghujung abad ke-20 atau awal abad ke-21. prinsip bisnis modern, seperti tujuan pelanggan, pelayanan yang unggul, kompetensi, efisiensi, transparansi, persaingan yang sehat dan kompetitif semuanya telah menjadi gambaran pribadi dan ketika manajemen bisnis Muhammad SAW ketika masih muda.

Sumber dan referensi

1. Al-Qur’an dan hadist HR. Bukhori Muslim

2. SYiroh Nabawiyah

3. Bisnis Ekonomi Syariah

4. Afzallurahman dalam Muhammad SAW a Trader

BLUE, PURPLE OR RED STRATEGY

 

Red Ocean adalah kondisi dimana kita bersaing pada pasar yang sama dengan pesaing. Pasar ini tentunya dihuni oleh banyak pelaku bisnis yang secara bersama-sama bersaing dan turut membesarkan pasar yang ada. Karena begitu banyaknya pelaku bisnis pada pasar ini suasana persaingan akan begitu sengit.

Dengan adanya persaingan tersebut akan memunculkan posisi perusahaan pada persaingan yaitu mulai dari market leader, challenger, follower dan neacher. Tentunya tiap-tiap posisi punya kelebihan dan kelemahan masing-masing. Pada red ocean ini setiap pelaku bisnis akan berusaha sekuat tenaga untuk dapat memenangkan persaingan dan menjadi market leader. Dengan kondisi tersebut maka tidak heran pada red ocean akan timbul persaingan yang tidak sehat, saling menjatuhkan dan berusaha ”mengahabisi” setiap pesaingnya.

Blue Ocean merupakan strategi yang menekankan bagaimana perusahaan untuk tidak memenangkan persaingan dengan cara melakukan strategi head-to-head dengan pesaing. Dengan kata lain jangan bersaing di gelanggang atau pasar yang sama. Tetapi, bukalah pasar baru dan buat pesaing menjadi tidak relevan. Tidak relevan karena pasar yang kita ciptakan mempunyai rule of the game yang baru. Dengan demikian, pesaing menjadi tidak relevan lagi di mata konsumen. Sehingga bisa dikatakan bahwa blue ocean ini merupakan kebalikan dari red ocean. Memang tidak mudah untuk mengimplementasikan strategy blue ocean ini, diperlukan kejeniusan, kreativitas dan kecerdesan dalam melihat pasar. Banyak pelaku bisnis karena kurangnya perhitungan dan dukungan finansial yang cukup akhirnya berhenti ditengah jalan. Sebab strategi blue ocean ini dalam implementasinya memang membutuhkan biaya yang sangat besar hal ini dilatarbelakangi bahwa setiap aktivitas perusahaan mulai dari promosi, edukasi, dan sebagainya dilakukan secara mandiri tanpa ada dukungan dari kompetitor dan pihak-pihak lain yang berkepentingan.

Purple Ocean ini bisa dikatakan istilah baru yang muncul setelah adanya blue ocean. Pencetus ide ini adalah Handi Irawan D, yang merupakan Chairman dari Frontier Consulting Group dan Content & Knowledge Based Speaker. Konsep purple ocean sendiri menurut beliau merupakan sebuah strategi alternatif yang mengkomunikasikan strategi red and blue ocean yang terlalu radikal dalam implementasinya. Strategi ini sendiri tidak memiliki ketetapan baku harus seperti ini atau seperti itu. Sebagai contoh sebuah perusahaan yang menciptakan kategori baru kemudian mengajak pesaing untuk masuk kedalam kategori yang sama adalah bagian dari purple ocean. Bisa juga perusahaan menciptakan kategori baru, tetapi tetap terus mendorong produk yang lama. Kategori baru hanya digunakan sebagai strategic product untuk menciptakan image yang lebih baik tetapi penjualan tetap saja bertumpu produk yang lama. Tentunya masih banyak bentuk-bentuk purple ocean yang dapat dikembangkan. Latar belakang kemunculan ide ini adalah kurang sesuainya pasar Indonesia pada saat ini untuk mengadopsi konsep blue ocean strategi secara keseluruhan. Hal ini didukung fakta yang menyebutkan tidak sedikit perusahaan yang gagal dalam mengembangkan strategi blue ocean ini.

Menurut Handi Irawan, ada banyak faktor yang menyebabkan kegagalan tersebut antara lain sebagai berikut:
a. Blue ocean membutuhkan leader yang fokus dan memiliki perspektif jangka panjang serta karyawan yang berkualitas agar berhasil dalam eksekusinya.
b. Blue ocean membutuhkan mitra yang sepadan untuk mendukung operasional perusahaan.
c. Blue ocean membutuhkan edukasi yang panjang ke konsumen, sehingga dana yang diperlukan juga sangat tinggi serta masih lemahnya perlindungan merek dan hak paten di Indonesia.

Purple Ocean

Mengenai hal ini sebenarnya sudah dijelaskan dengan cukup baik oleh guk Seta

Kita pernah mengetahui, mendengar atau bahkan membaca buku dan teori mengenai Blue Ocean Strategy dari W Chan Kim dan Renee Mauborgne. Intinya adalah mengenai bagaimana menciptakan ruang pasar tanpa pesaing dan membuat suatu persaingan menjadi tidak relevan.

Namun dalam perjalanannya menurut Handi Irawan, seorang pakar marketing, blue ocean kadang kurang tepat dipraktikkan di Indonesia. Satu alasan terbesar adalah bahwa blue ocean salah satu penyangga utamanya adalah teknologi. Jika ingin menerapkan blue ocean maka harus didukung teknologi yang memadai.

Cirque du Soleil sebagai contoh dalam buku tersebut yaitu sirkus yang dipadukan dengan opera membutuhkan teknologi panggung yang canggih. Amazon sebagai blue ocean yang beda dari toko buku konvensional (offline) membutuhkan teknologi IT. Guk Seta sendiri pernah mencova ber-blue ocean dengan membuka penyewaan yang DVD only namun karena tidak didukung teknologi DVD player yang murah saat itu maka terpaksa harus sedikit kacau profitnya.

Nah, Handi Irawan merasakan bahwa karena teknologi masih menjadi kendala bagi sebagian besar masyarakat Indonesia maka strategi blue ocean sedikit banyak ada kurang cocoknya diterapkan disini. Beliau dalam salah satu dari 10 Karakter Unik Konsumen Indonesis di majalah SWA adalah gagap teknologi. Maka jika dipaksakan akan dibutuhkan biaya edukasi yang cukup tinggi. Semangat ‘ingin beda’ dan ‘menjadi pioner’ jika berhubungan dengan teknologi maka siap2 untuk biaya edukasinya.

Oleh sebab itu beliau memaparkan tentang purple ocean yang tidak blue tidak red tapi penggabungan diantara keduanya. Inilah yang membuat saya mengerti mengapa contoh2 rekan TDA diatas cukup cepat kesuksesannya, walau mungkin tanpa mereka sadari. Mereka menjalankan strategi purple ocean.

Dalam contoh dari Handi, saat ini banyak yang menggabungkan blue ocean strategy nya yang membuat toko online dengan juga membuka toko offline. Sehingga apa yang menjadi kekurangan di satu jenis toko tertutupi. Toko online walau memiliki kelebihan bebas macet dan cenderung tidak perlu cost sewa toko namun memiliki kekurangan karena tipe orang Indonesia yang masih ingin ‘merasakan’ produknya terlebih dahulu. Inilah kenapa pernah terjadi munculnya bisnis dot com bak jamur namun kini hanya segelintir yang masih eksis.

Dan kelebihan itu yang dimiliki toko offline, kekurangan bebas macetnya akhirnya diakali dengan datang dahulu awalnya untuk merasakan produk dan berkenalan dengan owner lalu transaksi selanjutnya melihat update produk secara online di web sehingga memudahkan.

Yang kedua, menggabungkan grosir dengan eceran. Jadi tidak hanya fokus di eceran atau grosir. Eceran menang di margin yang besar per satuan pcs, grosir walau kalah di margin per satuan pcs namun menang di kuantitas dan memberi peluang usaha bagi yang berminat.

Inilah yang dilakukan rekan2 tersebut.

Intinya adalah bahwa purple ocean memang hendak memenuhi permintaan pelanggan yang hybrid alias berbagai macam segmen dan kebutuhan. Bukan berarti akan menjadi tidak fokus. Produk atau tema bisnis tetap fokus namun strategi pemasaran, distibusi dan promosi yang hybrid. Pak Roni dan pak Try Atmojo sendiri pernah mengutarakan hal ini untuk selain grosir juga melakukan strategi eceran atau sebaliknya.

Yang terakhir adalah purple ocean yg merupakan kombinasi dari red & blue ocean. Blue ocean strategi di implementasikan namun tidak radikal, sebuah perusahaan menciptakan kategori baru tapi tetap mendorong produk lamanya dan kemudian membiarkan pesaing ikutan masuk untuk memperkaya image kategori baru yg di bangun oleh perusahaan pencipta kategori baru sebab dalam peng edukasi-an budaya penggunaan suatu produk sperti telah dikatakan sebelumnya butuh ongkos yg g dikit alias mahal. butuh waktu untuk membuat customer jatuh cinta dan memahami manfaat produk kategori baru ini. untuk contohnya saya juga baru tau kalau ternyata mie instant butuh waktu 20 tahun untuk sukses di pasaran, andil para produsen yg terus melakukan product development dalam penyajian dan rasa seiring waktu membentuk suatu perbaikan yg hasilnya signifikan yg akhirnya bisa di terima oleh lidah sebagian besar masyarakat Indonesia. contoh apalagi, liat susu kaya kalsium pencegah osteoporosis atau tulang keropos yg ternyata sudah ada sejak tahun 1996 namun masyarakat baru benar2 aware setelah dididik hampir 1 dekade dengan berbagai macam cara untuk kesadaran pentingnya tulang yg kuat.

Not Blue Ocean Strategy, But Purple Ocean
Inti dari Blue Ocean Strategy adalah membuat kategori baru sehingga membuat persaingan di Red Ocean yang berdarah-darah menjadi tidak relevan. Strategi Blue Ocean memang menjanjikan high profit di masa depan.
Mengapa?
1. Strategi ini menawarkan inovasi radikal
2.Mampu menciptakan profitabilitas yang jauh di atas rata-rata industri
3.Strategi yang berupaya untuk memangkas biaya dan sekaligus meningkatkan revenue
Menurut Handi Irawan, Chairman Frontier, bahwa strategi Blue Ocean beresiko lebih tinggi jika diterapkan di Indonesia. Banyak sekali perusahaan di Indonesia yang gagal menerapkan strategi Blue Ocean. Namun juga perlu dicatat, bahwa perusahaan yang masuk dalam persaingan Red Ocean memiliki peluang yang lebih kecil untuk memenangkan persaingan. Dimana pemain Red Ocean mencapai suatu titik dimana proses komoditasasi terjadi kemudian para pemain Red Ocean kehilangan diferensiasinya.
Salah satu cara yang paling sederhana dalam Blue Ocean adalah menggabungkan dua kategori atau lebih untuk kemudian menjadi satu kategori baru. Mudah sekali melihatnya. Di kota saya, Yogyakarta, cafe-cafe/tempat nongkrong saat ini sudah dilengkapi dengan hot spot area. Simplenya, ini menggabungkan antara kategori food&beverage dengan akses internet. Saat ini cafe yang menyasar kelas menengah harus berpikir ulang jika mereka tidak memiliki hot spot area.
Apa faktor kegagalan dalam mengimplementasikan Blue Ocean Strategy?
Salah satunya adalah biaya edukasi pasar yang tinggi. Dan tidak dapat dipungkiri bahwa Strategi Blue Ocean banyak menyandarkan kepada kemampuan dari teknologi.
Contoh kongkritnya adalah Bank Bali, sebelum merger dengan empat bank lainnya menjadi Bank Permata. Bank yang cukup inovatif ini di pertengahan tahun 90-an meluncurkan direct banking. Pada masa itu inovasi tersebut terbilang cukup radikal. Bayangkan, pada era itu nasabah cukup menggunakan telepon untuk melakukan transaksi. Namun edukasi hal tersebut membutuhkan waktu yang cukup panjang. Tentu saja biaya edukasi pasar yang tidak kecil. Apalagi tidak disertai dengan pesaing dalam mengedukasi pasar yang notabene dapat memperkecil biaya edukasi. Akhirnya strategi ini menjadi catatan sejarah perbankan. Hari ini, layanan seperti ini sudah bertaburan di Indonesia.

Pada skala yang lebih kecil, Blatz Lounge merupakan cafe pertama yang menambahkan value added hot spot area. Namun pada akhirnya Blatz Lounge hanya menjadi sejarah. Pada saat itu akses internet masih mahal sehingga untuk mendapatkan bandwith besar butuh biaya yang besar. Apalagi tidak semua area dalam ruangan tersebut dapat tercakup. Blatz tidak siap untuk itu. Sehingga pesaingnya yang baru yang melihat pasar sudah mulai teredukasi oleh internet, Own Cafe, melancarkan strategi cafe denga hot spot area namun dengan akses internet yang jauh lebih kencang. Ditambah lagi dengan strategi peminjaman laptop gratis.

Purple Ocean Strategy tetap merupakan sebuah inovasi, namun tidak seradikal Blue Ocean Strategy. Biaya edukasi pasar lebih kecil karena digarap bersama oleh pesaing. Sambil mengedukasi pasar tentang inovasi yang baru, namun tetap menyediakan customer needs untuk hal yang lama dan umum.

Hello world!

Welcome to WordPress.com! This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

Happy blogging!