BLUE, PURPLE OR RED STRATEGY

 

Red Ocean adalah kondisi dimana kita bersaing pada pasar yang sama dengan pesaing. Pasar ini tentunya dihuni oleh banyak pelaku bisnis yang secara bersama-sama bersaing dan turut membesarkan pasar yang ada. Karena begitu banyaknya pelaku bisnis pada pasar ini suasana persaingan akan begitu sengit.

Dengan adanya persaingan tersebut akan memunculkan posisi perusahaan pada persaingan yaitu mulai dari market leader, challenger, follower dan neacher. Tentunya tiap-tiap posisi punya kelebihan dan kelemahan masing-masing. Pada red ocean ini setiap pelaku bisnis akan berusaha sekuat tenaga untuk dapat memenangkan persaingan dan menjadi market leader. Dengan kondisi tersebut maka tidak heran pada red ocean akan timbul persaingan yang tidak sehat, saling menjatuhkan dan berusaha ”mengahabisi” setiap pesaingnya.

Blue Ocean merupakan strategi yang menekankan bagaimana perusahaan untuk tidak memenangkan persaingan dengan cara melakukan strategi head-to-head dengan pesaing. Dengan kata lain jangan bersaing di gelanggang atau pasar yang sama. Tetapi, bukalah pasar baru dan buat pesaing menjadi tidak relevan. Tidak relevan karena pasar yang kita ciptakan mempunyai rule of the game yang baru. Dengan demikian, pesaing menjadi tidak relevan lagi di mata konsumen. Sehingga bisa dikatakan bahwa blue ocean ini merupakan kebalikan dari red ocean. Memang tidak mudah untuk mengimplementasikan strategy blue ocean ini, diperlukan kejeniusan, kreativitas dan kecerdesan dalam melihat pasar. Banyak pelaku bisnis karena kurangnya perhitungan dan dukungan finansial yang cukup akhirnya berhenti ditengah jalan. Sebab strategi blue ocean ini dalam implementasinya memang membutuhkan biaya yang sangat besar hal ini dilatarbelakangi bahwa setiap aktivitas perusahaan mulai dari promosi, edukasi, dan sebagainya dilakukan secara mandiri tanpa ada dukungan dari kompetitor dan pihak-pihak lain yang berkepentingan.

Purple Ocean ini bisa dikatakan istilah baru yang muncul setelah adanya blue ocean. Pencetus ide ini adalah Handi Irawan D, yang merupakan Chairman dari Frontier Consulting Group dan Content & Knowledge Based Speaker. Konsep purple ocean sendiri menurut beliau merupakan sebuah strategi alternatif yang mengkomunikasikan strategi red and blue ocean yang terlalu radikal dalam implementasinya. Strategi ini sendiri tidak memiliki ketetapan baku harus seperti ini atau seperti itu. Sebagai contoh sebuah perusahaan yang menciptakan kategori baru kemudian mengajak pesaing untuk masuk kedalam kategori yang sama adalah bagian dari purple ocean. Bisa juga perusahaan menciptakan kategori baru, tetapi tetap terus mendorong produk yang lama. Kategori baru hanya digunakan sebagai strategic product untuk menciptakan image yang lebih baik tetapi penjualan tetap saja bertumpu produk yang lama. Tentunya masih banyak bentuk-bentuk purple ocean yang dapat dikembangkan. Latar belakang kemunculan ide ini adalah kurang sesuainya pasar Indonesia pada saat ini untuk mengadopsi konsep blue ocean strategi secara keseluruhan. Hal ini didukung fakta yang menyebutkan tidak sedikit perusahaan yang gagal dalam mengembangkan strategi blue ocean ini.

Menurut Handi Irawan, ada banyak faktor yang menyebabkan kegagalan tersebut antara lain sebagai berikut:
a. Blue ocean membutuhkan leader yang fokus dan memiliki perspektif jangka panjang serta karyawan yang berkualitas agar berhasil dalam eksekusinya.
b. Blue ocean membutuhkan mitra yang sepadan untuk mendukung operasional perusahaan.
c. Blue ocean membutuhkan edukasi yang panjang ke konsumen, sehingga dana yang diperlukan juga sangat tinggi serta masih lemahnya perlindungan merek dan hak paten di Indonesia.

Purple Ocean

Mengenai hal ini sebenarnya sudah dijelaskan dengan cukup baik oleh guk Seta

Kita pernah mengetahui, mendengar atau bahkan membaca buku dan teori mengenai Blue Ocean Strategy dari W Chan Kim dan Renee Mauborgne. Intinya adalah mengenai bagaimana menciptakan ruang pasar tanpa pesaing dan membuat suatu persaingan menjadi tidak relevan.

Namun dalam perjalanannya menurut Handi Irawan, seorang pakar marketing, blue ocean kadang kurang tepat dipraktikkan di Indonesia. Satu alasan terbesar adalah bahwa blue ocean salah satu penyangga utamanya adalah teknologi. Jika ingin menerapkan blue ocean maka harus didukung teknologi yang memadai.

Cirque du Soleil sebagai contoh dalam buku tersebut yaitu sirkus yang dipadukan dengan opera membutuhkan teknologi panggung yang canggih. Amazon sebagai blue ocean yang beda dari toko buku konvensional (offline) membutuhkan teknologi IT. Guk Seta sendiri pernah mencova ber-blue ocean dengan membuka penyewaan yang DVD only namun karena tidak didukung teknologi DVD player yang murah saat itu maka terpaksa harus sedikit kacau profitnya.

Nah, Handi Irawan merasakan bahwa karena teknologi masih menjadi kendala bagi sebagian besar masyarakat Indonesia maka strategi blue ocean sedikit banyak ada kurang cocoknya diterapkan disini. Beliau dalam salah satu dari 10 Karakter Unik Konsumen Indonesis di majalah SWA adalah gagap teknologi. Maka jika dipaksakan akan dibutuhkan biaya edukasi yang cukup tinggi. Semangat ‘ingin beda’ dan ‘menjadi pioner’ jika berhubungan dengan teknologi maka siap2 untuk biaya edukasinya.

Oleh sebab itu beliau memaparkan tentang purple ocean yang tidak blue tidak red tapi penggabungan diantara keduanya. Inilah yang membuat saya mengerti mengapa contoh2 rekan TDA diatas cukup cepat kesuksesannya, walau mungkin tanpa mereka sadari. Mereka menjalankan strategi purple ocean.

Dalam contoh dari Handi, saat ini banyak yang menggabungkan blue ocean strategy nya yang membuat toko online dengan juga membuka toko offline. Sehingga apa yang menjadi kekurangan di satu jenis toko tertutupi. Toko online walau memiliki kelebihan bebas macet dan cenderung tidak perlu cost sewa toko namun memiliki kekurangan karena tipe orang Indonesia yang masih ingin ‘merasakan’ produknya terlebih dahulu. Inilah kenapa pernah terjadi munculnya bisnis dot com bak jamur namun kini hanya segelintir yang masih eksis.

Dan kelebihan itu yang dimiliki toko offline, kekurangan bebas macetnya akhirnya diakali dengan datang dahulu awalnya untuk merasakan produk dan berkenalan dengan owner lalu transaksi selanjutnya melihat update produk secara online di web sehingga memudahkan.

Yang kedua, menggabungkan grosir dengan eceran. Jadi tidak hanya fokus di eceran atau grosir. Eceran menang di margin yang besar per satuan pcs, grosir walau kalah di margin per satuan pcs namun menang di kuantitas dan memberi peluang usaha bagi yang berminat.

Inilah yang dilakukan rekan2 tersebut.

Intinya adalah bahwa purple ocean memang hendak memenuhi permintaan pelanggan yang hybrid alias berbagai macam segmen dan kebutuhan. Bukan berarti akan menjadi tidak fokus. Produk atau tema bisnis tetap fokus namun strategi pemasaran, distibusi dan promosi yang hybrid. Pak Roni dan pak Try Atmojo sendiri pernah mengutarakan hal ini untuk selain grosir juga melakukan strategi eceran atau sebaliknya.

Yang terakhir adalah purple ocean yg merupakan kombinasi dari red & blue ocean. Blue ocean strategi di implementasikan namun tidak radikal, sebuah perusahaan menciptakan kategori baru tapi tetap mendorong produk lamanya dan kemudian membiarkan pesaing ikutan masuk untuk memperkaya image kategori baru yg di bangun oleh perusahaan pencipta kategori baru sebab dalam peng edukasi-an budaya penggunaan suatu produk sperti telah dikatakan sebelumnya butuh ongkos yg g dikit alias mahal. butuh waktu untuk membuat customer jatuh cinta dan memahami manfaat produk kategori baru ini. untuk contohnya saya juga baru tau kalau ternyata mie instant butuh waktu 20 tahun untuk sukses di pasaran, andil para produsen yg terus melakukan product development dalam penyajian dan rasa seiring waktu membentuk suatu perbaikan yg hasilnya signifikan yg akhirnya bisa di terima oleh lidah sebagian besar masyarakat Indonesia. contoh apalagi, liat susu kaya kalsium pencegah osteoporosis atau tulang keropos yg ternyata sudah ada sejak tahun 1996 namun masyarakat baru benar2 aware setelah dididik hampir 1 dekade dengan berbagai macam cara untuk kesadaran pentingnya tulang yg kuat.

Not Blue Ocean Strategy, But Purple Ocean
Inti dari Blue Ocean Strategy adalah membuat kategori baru sehingga membuat persaingan di Red Ocean yang berdarah-darah menjadi tidak relevan. Strategi Blue Ocean memang menjanjikan high profit di masa depan.
Mengapa?
1. Strategi ini menawarkan inovasi radikal
2.Mampu menciptakan profitabilitas yang jauh di atas rata-rata industri
3.Strategi yang berupaya untuk memangkas biaya dan sekaligus meningkatkan revenue
Menurut Handi Irawan, Chairman Frontier, bahwa strategi Blue Ocean beresiko lebih tinggi jika diterapkan di Indonesia. Banyak sekali perusahaan di Indonesia yang gagal menerapkan strategi Blue Ocean. Namun juga perlu dicatat, bahwa perusahaan yang masuk dalam persaingan Red Ocean memiliki peluang yang lebih kecil untuk memenangkan persaingan. Dimana pemain Red Ocean mencapai suatu titik dimana proses komoditasasi terjadi kemudian para pemain Red Ocean kehilangan diferensiasinya.
Salah satu cara yang paling sederhana dalam Blue Ocean adalah menggabungkan dua kategori atau lebih untuk kemudian menjadi satu kategori baru. Mudah sekali melihatnya. Di kota saya, Yogyakarta, cafe-cafe/tempat nongkrong saat ini sudah dilengkapi dengan hot spot area. Simplenya, ini menggabungkan antara kategori food&beverage dengan akses internet. Saat ini cafe yang menyasar kelas menengah harus berpikir ulang jika mereka tidak memiliki hot spot area.
Apa faktor kegagalan dalam mengimplementasikan Blue Ocean Strategy?
Salah satunya adalah biaya edukasi pasar yang tinggi. Dan tidak dapat dipungkiri bahwa Strategi Blue Ocean banyak menyandarkan kepada kemampuan dari teknologi.
Contoh kongkritnya adalah Bank Bali, sebelum merger dengan empat bank lainnya menjadi Bank Permata. Bank yang cukup inovatif ini di pertengahan tahun 90-an meluncurkan direct banking. Pada masa itu inovasi tersebut terbilang cukup radikal. Bayangkan, pada era itu nasabah cukup menggunakan telepon untuk melakukan transaksi. Namun edukasi hal tersebut membutuhkan waktu yang cukup panjang. Tentu saja biaya edukasi pasar yang tidak kecil. Apalagi tidak disertai dengan pesaing dalam mengedukasi pasar yang notabene dapat memperkecil biaya edukasi. Akhirnya strategi ini menjadi catatan sejarah perbankan. Hari ini, layanan seperti ini sudah bertaburan di Indonesia.

Pada skala yang lebih kecil, Blatz Lounge merupakan cafe pertama yang menambahkan value added hot spot area. Namun pada akhirnya Blatz Lounge hanya menjadi sejarah. Pada saat itu akses internet masih mahal sehingga untuk mendapatkan bandwith besar butuh biaya yang besar. Apalagi tidak semua area dalam ruangan tersebut dapat tercakup. Blatz tidak siap untuk itu. Sehingga pesaingnya yang baru yang melihat pasar sudah mulai teredukasi oleh internet, Own Cafe, melancarkan strategi cafe denga hot spot area namun dengan akses internet yang jauh lebih kencang. Ditambah lagi dengan strategi peminjaman laptop gratis.

Purple Ocean Strategy tetap merupakan sebuah inovasi, namun tidak seradikal Blue Ocean Strategy. Biaya edukasi pasar lebih kecil karena digarap bersama oleh pesaing. Sambil mengedukasi pasar tentang inovasi yang baru, namun tetap menyediakan customer needs untuk hal yang lama dan umum.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s